Asal Usul Nama Bayanan (Sejarah / Sejarah Lisan)

Asal Usul Nama Bayanan

Asal Usul Nama Bayanan

BERKAH TIRTA NIRMALA DAN KISAH AJAIB PARA BANGSAWAN
Kebiasaan membersihkan mata air banyak ditemui di daerah lain dengan berbagai variasi tata laksana upacara dan ritus. Adat istiadat membersihkan Gong Bayan juga berangkat dari kebiasaan warga desa membersihkan umbul air panas Tirta Nirmala di Bayanan. Adapun kebiasaan tersebut terlaksana untuk memenuhi wasiat Kyai Khasan Anom atau Kyai Bayan.
Adat ini memuat makna pesan tersirat tentang: ketaqwaan manusia kepada Tuhan, pelestarian lingkungan hidup, dan manfaat sosial-ekonomi sebagai dampak lanjutannya. Selain itu terselip pula penggunaan teknologi metal untuk mengatasi bencana alam. Sebuah benda mirip gong berukuran besar terbuat dari logam tebal benar adanya diletakkan merebah di atas titik pancar air panas Tirta Nirmala. Endapan belerang mirip tanah liat menyelimuti hampir seluruh tubuh gong, hanya sedikit meyisakan sisi samping saja.
Seorang anggota tim PPKD Kabupaten Sragen 2019 telah membuktikan keberadaan benda tersebut dengan ikut langsung dalam pembersihan umbul air panas. Tentu menarik untuk mengetahui alasan penggunaan gong untuk mengendalikan pancaran dan pusaran air panas dari umbul Tirta Nirmala.
Adat istiadat ini relatif masih bertahan dan didukung oleh warga desa setempat. Walaupun sempat mati suri mulai 2007, namun rekonstruksi adat istiadat dan tata laksana upacara serta ritus yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen mampu membangkitkan kembali adat istiadat membersihkan gong Bayan. Sebagian besar peserta pelaksana adat istiadat tersebut bahkan dari kalangan muda mudi desa.
Adat istiadat ini memiliki nilai penting terkait aspek sejarah, pendidikan, agama, kearifan lokal. Keberadaan adat-istiadat ini memberi gambaran awal tentang kondisi sosial Bayanan era kolonial, politik penguasaan lahan perkebunan, pengaruh tokoh agama dari trah Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo, pegetahuan metalurgi kuno. Tentu tak kalah penting adalah sajian makna filosofis di balik adat istiadat ini.
Adat istiadat ini terdapat keterkaitan kontekstual dengan keberadaan petilasan Ki Anom di puncak bukit kecil yang berjarak hanya 200 meter dari kompleks Bayanan. Masyarakat meyakini di bawah petilasan berbentuk gundukan tanah itu terkubur tongkat Kyai Khasan Anom. Selain itu, sebagian kecil warga masih memiliki kebiasaan menyajikan hidangan pitik butu (ayam utuh dipanggang) hanya untuk tamu yang dianggap istimewa. Menurut kisah tutur, ayam panggang utuh ini merupakan wasiat Kyai Khasan Anom, yakni bagian dari uba rampe saat proses mengarak gong menuju mata air. Adat istiadat ini juga memiliki keterkaitan secara geografis dengan mata air panas Sendang Panguripan di Sambilenguk, Desa Jetis. Sendang ini terletak lebih tinggi dari Bayanan.
Perihal keberadaan mata air panas bayanan dan sosok Kyai Khasan Anom/ Kyai bayanternyata memiliki sandaran fakta sejarah. Koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 6 November 1890 menulis ditemukannya sumber air panas di Bayanan, yang merupakan bagian dari perusahaan (perkebunan) terkenal Ngaroem (Sragen). mata air ini sebenarnya sudah pernah ditemukan beberapa dekade sebelumnya namun kemudian mati, hingga kembali ditemukan memancar dari balik semak belukar dan pepohonan hutan.

Khasiat yang terkandung dalam air panas Tirta Nirmala Bayanan ternyata pernah mendapat perhatian media massa di era Pemerintahan Hindia Belanda masih bercokol. Koran Bataviaasch Nieuwsblad terbitan 6 November 1890 memuat kabar ditemukannya sumber air suam suam kuku (hangat) secara tidak sengaja oleh putra tuan Nimrods
Disebutkan di koran tersebut bahwa Tidak jauh dari Halte Kedoengbanteng terdapat sebuah Desa bernama Bajanan (Bayanan) yang masuk wilayah dari perusahaan (perkebunan) terkenal Ngaroem (Sragen). Di Desa tersebut terdapat sebuah sumur yang memunculkan obat air panas suam suam kuku, yang manjur untuk menyembuhkan penyakit khususnya kusta.
Dalam beberaPa waktu terakhir area tersebut telah menarik perhatian ratusan penduduk asli dari berbagai tempat, termasuk Priyayi terkemuka dari Solo dan di tempat lain. Dengan beberapa alasan karena ingin tahu atau untuk kesehatan, mereka telah mengunjungi tempat itu dan mengambil air.
Setiap hari banyak orang datang dan pergi dari Yogyakarta, Jogorogo, Madiun, Pacitan. Salah satu priyayi adalah Raden Ayu dari Bupati Sragen yang menderita reumatik selama bertahun-tahun dan hampir tidak bisa berjalan lagi. Dia tersembuhkan dari penyakitnya dan sekarang bisa berjalan kembali setelah mandi di sumber air panas itu selama beberapa hari. Selain itu seorang Raden Ayu dari Kaliyoso (waktu itu masih wilayah Sragen) adik perempuan Radhen Mas ToeMenggoeng Djojodiningrat pun telah berkunjung untuk mendapatkan manfaat air tersebut. Oleh berkat Tuhan, beberapa penderita dari kalangan terhormat yang telah mengalami kebutaan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun juga telah pulih karena khasiat air Bayanan. Sementara itu, beberapa orang yang menderita sakit kepala parah dan persisten sembuh total setelah mandi selama 12 jam.
Kabar tentang umbul Bayanan ini pun telah menarik perhatian Kraton Kasunanan Surakarta. Pangeran Adipati Anom mengirim seorang misionaris Belanda untuk menguji kualitas air umbul Bayanan. Tampaknya hasilnya cukup meyakinkan pihak istana Surakarta. Karena setelah itu, beberapa pangeran dari Kraton Kasunanan Surakarta mengunjungi umbul Bayanan sebanyak dua kali. Setiap kali berkunjung, para pangeran itu membawa serta air umbul bayanan sebanyak 12 kaleng minyak ke Kraton Surakarta.
Lebih seabad kemudian, Balai Penyelidikan Dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta pun melakukan penyelidikan serupa. Hasilnya menunjukkan adanya banyak unsur/senyawa kimia yang terkandung dalam Sumber Air Panas Bayanan antara lain belerang (sragenkan.go.id, Agustus 2018)
Masih merujuk koran Bataviaasch Nieuwsblad, mata air Bayanan sebenarnya telah ditemukan beberapa dekade sebelumnya. Namun, oleh sebab yang belum diketahui, mata air panas itu kemudian terbengkalai, tertutup semak belukar dan pepohonan hutan. Setelah selama berpuluh tahun sempat terlupakan umbul itu ditemukan tanpa sengaja oleh putra Tuan Nimrods pada November 1890. Sejak itu, umbul air panas kembali dimanfaatkan untuk banyak orang.

JEJAK PESANTREN GEBANG TINATAR DALAM CERITA TUTUR GONG BAYAN
Di sisi lain, terdapat Pondok Pesantren Gebang Tinatar yang didirikan Kyai Ageng Mochammad Khasan Besari di Desa Tegalsari Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1700 M (Poernomo 1985, Babad Kyai Ageng Muhammad Besari, hal 21). Sedangkan Menurut Drs Haris Daryono, Masa hidup Kyai Ageng Mochammad Khasan Besari adalah 1674 M -1747 M (Haris. D., 2006, Dari Majapahit Menuju Pondok Pesantren, hal 258). Kepemimpinan Pondok Pesantren Gebang Tinatar turun temurun dilanjutkan oleh anak cucu Kyai Ageng Mochammad Khasan Besari . Pada tahun 1867 M – 1877 M, Pondok Pesantren Gebang Tinatar dipimpin oleh Kyai Kasan Anom I (Haris. D., idem). Pada kurun waktu ini pula, kisah seputar mata air bayanan muncul.
Tampaknya terdapat kaitan antara sosok ulama Pondok Gebang Tinatar Ponogoro dengan umbul Bayanan. Sebab, saat ini terdapat beberapa nama-nama yang secara toponim berkaitan dengan sosok Kyai Kasan Anom I. Dalam cerita tutur para tetua masayarkat Bayanan, Gong untuk menyumbat umbul yang menyembur tak terkendali itu ditanam oleh Kyai Khasan dari Ponorogo. Sementara di atas sebuah bukit, tak jauh dari umbul bayanan sekarang, terdapat petilasan yang disebut warga sekitar dengan punden Ki Anom.
Sebagaimana ditulis di koran belanda 1890-11-06 Bataviaasch Nieuwsblad bahwa sumber air panas Bayanan yang diberitakan tersebut sebenarnya telah ditemukan beberapa dekade (20-30 tahun) sebelumnya, disekitar tahun1860-1870. Pada periode itu pula, Kyai Khasan Anom I mememimpin Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo. Maka, Patut diduga bahwa Kyai Khasan dari Ponorogo yang selama ini tersiar dalam cerita rakyat Bayanan tak lain adalah Kyai Khasan Anom I, pemimpin dan ulama dari Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo.
Sementara itu petilasan tongkat Kyai/Eyang Anom tak jauh dari umbul Bayanan besar kemungkinan adalah lokasi yang pernah disinggahi Kyai Khasan Anom I. Kemungkinan, setelah membendung umbul air panas, beliau berkeliling berdakwah di daerah Bayanan sebelum kembali ke Ponorogo. Salah satu lokasi yang disinggahji adalah tempat dimana sekarang menjadi petilasan Eyang Anom. Dii dalam tanah petilasan itu dipercaya terdapat tongkat milik Eyang Anom
Sementara itu, Gong sebagai alat musik gamelan jawa juga memiliki makna keagungan dan kebesaran Allah SWT. Tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa seijin Allah SWT. Sedangkan Bayan dalam bahasa arab artinya terang. Sehingga Kyai Khasan menamakan Gong tersebut sebagai Gong Bayan sebagai sarana dakwah kultural dengan menggunakan perlambang simbolik, sebagai ciri khas ulama waktu itu yang menyebarkan agama Islam tanpa meninggalkan keberadaan seni budaya lokal.

(penulis: Johny Adhi Aryawan)

LINK TERKAIT
HOTLINE WA OFFICIAL
Butuh bantuan
Hubungi salah satu petugas kami berikut
Layanan Umum
Admin Dapodik