Asal Usul Waduk Mbayut

Asal Usul Waduk Mbayut

Asal Usul Waduk Mbayut

Asal Usul Waduk Mbayut
Sragen memiliki cukup banyak objek wisata. Baik objek wisata alam maupun buatan. Objek wisata alam adalah objek wisata alami akibat proses alamiah. Objek wisata buatan adalah objek wisata hasil buatan manusia. Namun, ada juga objek wisata yang merupakan hasil keduanya. Salah satunya adalah Waduk Mbayut atau Waduk Gebyar. Terletak di bagian tenggara dari pusat kota Sragen, yakni di perbatasan Sragen dengan Ngawi Jawa Timur. Tepatnya di Dukuh Mbayut RT.12 Desa Jambeyan Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen. Inilah kisahnya.
Waduk Mbayut dibangun pada masa kolonial Belanda. Tepatnya setelah pecah Agresi Militer II, yakni tahun 1948. Konstruksi dan artitekturnya khas Eropa. Dibangun secara bertahap hingga beberapa kali. Selesai dibangun dan diresmikan pada 1955. Waduk ini menyerupai daun waru yang jadi lambang cinta. Indahnya waduk ini karena berlatar Gunung Lawu. Selain itu, air jernih yang selalu mengalir makin menambah eloknya pemandangan. Hamparan luasnya sawah membuat mata sejuk memandang.
Pada saat peresmian digelar pergelaran wayang kulit di area sawah sebelah timur Kemantren atau gedung penjaga waduk. Sekarang disebut kantor pengairan, Pergelaran seni wayang itu tanpa seizing masyarakat setempat. Menurut kepercayaan mereka, pergelaran wayang kulit merupakan pamali atau sesuatu yang bisa mendatangkan bahaya atau musibah. Akan ada lebon atau biasa disebut tumbal setelah pantangan itu dilanggar. Entah tumbal itu berupa hilangnya nyawa manusia atau bencana alam. Karena itulah, pergelaran wayang kulit itu hanya ditonton oleh orang-orang yang berasal dari luar daerah. Masyarakat setempat lebih suka diam di rumah masing-masing.
Tentang berbagai pantangan yang harus dihindari agar keamanan dan kenyamanan lingkungan tetap terjaga diberikan kakek dan nenek kepada generasi berikutnya secara turun temurun. Termasuk letak atau posisi Waduk Mbayut tersebut. Konon lokasi waduk itu merupakan makam kuno. Makam orang pertama yang datang dan tinggal di dukuh itu. Masyarakat setempat memanggilnya Mbah Buyut. Karena pengucapan dua kata itu terasa sulit di lidah masyarakat Jawa, akhirnya disingkat dengan sebutan Mbayut.
(Sugiyono )

LINK TERKAIT
HOTLINE WA OFFICIAL
Butuh bantuan
Hubungi salah satu petugas kami berikut
Layanan Umum
Admin Dapodik